Thursday, April 15, 2010

terprovokasi

provokasi..


seringkali kita termakan olehnya, terprovokasi..


According to Kamus Besar Bahasa Indonesia:

pro·vo·ka·si n perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan: sebaiknya mereka menyadari bahwa -- yg ditimbulkannya itu akan mengundang pertumpahan darah;
ter·pro·vo·ka·si v terpancing atau terpengaruh untuk melakukan perbuatan negatif, msl perusakan: pengunjuk rasa sempat ~

kenapa tiba-tiba saya bicara provokasi?
well, saya terinspirasi dari kejadian kerusuhan di Tanjung Priuk terjadi kemarin (14 April 2010). Memang istilah provokasi selalu identik dengan kerusuhan. Sekelompok orang yang terprovokasi oleh sang pengadu domba dalam sekejap bisa menjadi angry mob, rusuh dan gelap mata.. memang untuk konteks kejadian di Priuk kemarin, masing-masing pihak yang berdiri pada kepentingan masing-masing yang mereka perjuangkan ditambah lagi peran media massa yang menginform masyarakat dengan segala ketimpangannya menyebabkan efek provokasi dan terprovokasi semakin meluas ke orang-orang yang secara langsung tidak berada dalam kerusuhan tersebut . . well, that's classic. Model seperti ini sudah berlangsung sejak era orde lama dan bertambah parah pada era reformasi, Provokator menjadi semacam trademark di indonesia..


menurut pendapat saya sendiri, proses menjadi provokator atau pihak yang terprovokasi semua bermula pada pikiran kita masing-masing. There are times when our minds constructing things that we can't control dan pada akhirnya kita menyerah dan menjadi pihak yang terprovokasi. Akibatnya, kita berpikiran negatif atau berkebalikan akan sesuatu, dan kita cenderung tidak bisa menerimanya. Istilah provokasi juga tidak saja me-refer pada kerusuhan massal. Kadangkala nafsu juga memprovokasi kita untuk bertindak tidak semestinya, asusila misalnya. Atau ketika secara tidak sadar kita mebicarakan kejelekan orang lain di belakang mereka, saya rasa itu juga suatu bentuk provokasi.


Belakangan ini saya sedang merasa berada dalam low point, dengan very very low self esteem. Saya terus berpikiran kalau saya tidak sehat (dlm arti yang sebenarnya) dan terus-terusan mendramatisir setiap gejala yang saya rasakan di tubuh saya. Padahal, pada saat saya berpikiran jernih, semua perasaan bahwa badan saya tidak sehat itu muncul karena saya terus-terusan memikirkannya, saya memprovokasi diri saya dengan pikiran-pikiran negatif. Akibatnya, saya terus-menerus merasakan tidak sehat. It's kinda hard to get out of it, and i'm still working on it now.. dan saya harus bilang inilah perasaan palin mellow-dramatis-bin-lebay yang pernah rasakan. Saya memang tipikal orang yang mudah terprovokasi dengan apa yang saya dengar dan lihat, sialnya, kali ini saya terprovokasi dengan pikiran saya sendiri dan saya tersiksa karenanya. Akhirnya saya tahu gimana rasanya mengalami mental breakdown yang luar biasa sampai merasa ilfeel dengan segala hal. 'Thank's to pikiran saya yang sudah meprovokasi saya..


Konklusinya yang saya dapat adalah: mengontrol diri itu sangat penting, even your mind can provoke you and bring you down to the lowest point..


Saturday, March 27, 2010

Earth Hour-ing

hello there..

saat ini saya dan mungkin beberapa ribu orang lainnya di Indonesia dan belahan dunia lainnya sedang bergelap-gelap ria. Why? karena kami mendukung kampanye Earth Hour dari WWF untuk mematikan listrik (minimal lampu) supaya kita bisa membiarkan bumi 'bernapas' walau hanya dalam kurun waktu 60 menit. Dan ternyata asik juga suasana bergela-gelap ria ini.. manfaatnya untuk saya adalah saya bisa lebih berkonsentrasi, hehehe..

Earth Hour.. memang kampanye semacam ini berkesan sangat 'nge-pop' mengingat sarana yang digunakan untuk mempublikasikan adalah media massa. Liat aja gimana gencarnya iklan earth hour ini di media massa. Dan dari apa yang saya perhatikan, komersial kampanye earth hour di tv hanya menekankan pada ajakan untuk mematikan lampu. Shallow memang. Untuk apa mematikan lampu? Apa manfaatnya jika kita mematikan lampu? sayangnya penjabaran dari pertanyaan-pertanyaan tadi tidak diikutsertakan dari kampanye Earth Hour menggunakan media komersial tersebut. Memang pesannya akan langsung tertangkap, matikan lampu untuk mengurangi beban listrik supaya bumi bisa bernafas sejenak dari polutan-polutan yang ditimbulkan tenaga-tenaga penggerak listrik yang kita pakai sehari-hari. lalu, bagaimana setelah Earth Hour selesai? apakah orang-orang akan kembali memberi kesempatan pada bumi untuk bernafas 1 tahun lagi pada earth hour selanjutnya?

anyways, pembahas pada posting saya ini bukan untuk mengkritik kampanye earth hour, tapi dengan adanya kampanye ini saya jadi ingat dengan salah satu artikel yang dimuat majalah National Geographic edisi November 2008 yang membahas tentang polusi cahaya. Yep, polusi Cahaya.. tenyata memang ada banyak jenis polusi sodara-sodara, dan namanya juga polusi, pasti ada konsekuensinya..

di artikel yang ada di majalah National Geographic tersebut, disebutkan bahwa pada hakekatnya manusia adalah makhluk diurnal. Yang maksudnya kita tidak nyaman untuk beraktivitas dalam kegelapan dan kita diciptakan dengan mata yang cenderung beradaptasi dengan cahaya matahari. Oleh sebab itu, manusia merekayasa malam dengan 'mengisi' cahaya ke dalamnya agar malam 'menerima' diri kita. Egois bukan? yea right. Dan perlu diingingat, di muka bumi ini bukan cuma manusia yang hidup. Masih ada makhluk-makhluk hidup lainnya yang memiliki sifat berbeda, bahkan berkebalikan dengan manusia, seperti makhluk nocturnal yang memang merasa nyaman untuk 'beraktivitas' pada malam hari.

Faktanya, pada masa sekarang penduduk bumi sangat padat, terutama pada kota-kota besar. Dan salah satu dampak yang ditimbulkan dari kepadatan tersebut adalah meningkatnya polusi cahaya yang ada di kota-kota besar. Here are some pictures that shows how Light pollution really ocurrs in big cities..


don't u think that was too much light? memang tanpa disadari kalo lampu-lampu yang kita nyalakan ternyata bisa menjadi sangat 'terang' ketika sama-sama kita nyalakan pada malam hari. Walaupun emang dalam konteks kota-kota di Indonesia menurut saya masih cukup 'toleransi' dengan polusi cahaya mengingat Indonesia merupakan negara berkembang yang tidak cukup 'glamor' dibanding dengan kota-kota besar di negara barat sana.

anyways, here are dampak yang ditimbulkan oleh polusi cahaya (courtesy of Wikipedia):

1. Dampak terhadap hewan

Polusi cahaya membuat bintang dan bulan tak tampak. Burung yang bermigrasi menggunakan bintang dan bulan sebagai alat navigasi. Akibat adanya polusi cahaya, mereka tidak dapat bermigrasi ke tempat yang tepat. Penyu laut juga tidak datang ke pantai dan bertelur seperti biasa karena takut dengan cahaya.

2. Dampak terhadap manusia

Polusi cahaya menyebabkan masalah tidur terhadap manusia. Cahaya yang berlebihan dari billboard mengganggu orang yang sedang tidur di apartemen. Ilmu pengetahuan juga mengalami dampak dari polusi cahaya. Astronom tidak dapat mengamati dan menemukan obyek di angkasa karena terlalu banyak cahaya yang menutupi langit malam.

so, that's why saya merasa kalo kampanye earth hour ini tidak hanya membantu bumi untuk bernapas dalam 60 menit, tetapi juga memberikan ruang gerak bagi makhluk-mahkluk nocturnal yang hidup di bumi. bagaimanapun juga, hewan-hewan tersebut juga makhluk hidup yang sama-sama hidup di bumi, dan saya rasa toleransi yang mereka berikan pada makhluk diurnal seperti kita tidak ada batasnya. I know, We're really sorry :(

Saturday, March 13, 2010

identitas (?)


Ketika kita berinteraksi di ruang publik, kita cenderung memaknai orang lain dari tampilan fisiknya: baju yang digunakan, mobil yang dikendarai, gadget yang dipakai, dan lain sebagainya. Pegukuran identitas seseorang dalam interaksi ruang publik sangat sempit, dimana hal ini justru melegitimasi eksistensi sekelompok orang dengan sumber daya melimpah (baca:orang kaya). Dalam interaksi instan, Jarang sekali seorang individu dimaknai berdasarkan pada kualitas yang ada dalam dirinya: seperti kejujuran, kepintaran, kecerdasan, dan lain sebagainya. Padahal nilai-nilai tersebut dapat terlihat dalam interaksi instan melalui gesture tubuh dan cara berbicara.

Identitas. Hal ini yang menurut gue menjadi sesuatu yang kabur dalam struktur masyarakat postmodern. Media massa punya andil besar dalam membentuk identitas orang jaman sekarang. Look at those lifestyle magazines yang belakangan beredar. Menurut gue majalah-majah itu sangat mendikte pembacanya untuk begini, begitu.. gimana cara berpakaian, gimana cara bersosialisasi, bahkan gimana cara pacaran. Mungkin awalnya para pembaca majalah bersikap kritis dan nggak langsung nerima begitu aja semua informasi dari majalah yang dibacanya. Tapi lama-lama ia berada dalam pengaruh juga. Kenapa? karena majalah merupakan bagian dari mass media. Mass means massal, luas. Artinya informasi yang serupa juga diserap oleh banyak orang lainnya. Doktrin-doktrin yang ada dalam majalah kemudian diaplikasikan dalam interaksi sosial, dan membentuk sekelompok individu dengan ciri yang sama. Dahsyat bukan?

Foto yang ada di posting ini gue ambil di sebuah acara clothing festival. Dan waktu gue ambil foto orang-orang yang ada di foto tersebut, gue menyaksikan langsung gimana orang-orang dengan identitas yang sama (baca: gaya berpakaian sama) cenderung berkumpul dalam kelompok yang sama. Dari sini gue jadi bertanya, apakah atribut-atribut yang ada sama mereka cukup untuk merepresentasikan diri mereka sebagai individu sebenarnya mereka?

Thursday, February 18, 2010

the sun goes down



This is what i get when i go 'nongkrong' on my backyard at dusk. Jakarta might have the most polluted sky in this country, but still.. there's something that you can enjoy from Jakarta's sky.


Dusk. That's when the sun goes down. oh wait, it could be an allusion of something.
Gone. Yeah, the sun is gone and suddenly darkness comes.
Darkness. Could be an inconvenient situation.
Don't worry, the sun will light you up on the next day.
Just like life.
something might be gone but on the next phase something will be coming in
we hate it when we lost something precious, but we will be thrilled if we own something else as an exchange.
just keep on believing :)

Sunday, December 13, 2009

nothing better

Image Hosted by UploadHouse.com


Will someone please call a surgeon
Who can crack my ribs and repair this broken heart
That you're deserting for better company?
I can't accept that it's over...
And I will block the door like a goalie tending the net
In the third quarter of a tied-game rivalry
So just say how to make it right
And i swear I'll do my best to comply
Tell me am i right to think that there could be nothing better
Than making you my bride and slowly growing old together
I feel I must interject here you're getting carried away feeling sorry for yourself
With these revisions and gaps in history
So let me help you remember.
I've made charts and graphs that should finally make it clear.
I've prepared a lecture on why i have to leave
So please back away and let me go
I can't my darling i love you so...
Oh, oh
Tell me am i right to think that there could be nothing better
Than making you my bride and slowly growing old together
Don't you feed me lines about some idealistic future
Your heart won't heal right if you keep tearing out the sutures
I know that I have made mistakes and i swear
I'll never wrong you again
You've got a lure i can't deny,
But you've had your chance so say goodbye
Say goodbye


a song by the postal service


Sunday, December 06, 2009

the Sweet Disposition


Songs of desperation
I played them for you

A moment, a love
A dream, a laugh
A kiss, a cry
our rights, our wrongs
A moment, a love
A dream, a laugh
A moment, a love
A dream, a laugh

Just stay there Cause I'll be comin' over
While our bloods still young
It's so young, it runs

Won't stop til it's over

Won't stop to surrender


Sweet Disposition by The Temper trap




Thursday, November 19, 2009

from the very south of Indonesia

whoa, sudah lumayan lama saya tidak bercakap-cakap disini.. actually udah berkali-kali muncul niatan untuk nulis disini, tapi pas jari-jari gue udah siap untuk menekan tuts2 ini malah otak gue yang mendadak nge-blank. Hell yeah, i think a lot has been goin on inside my head lately, super random stuff.. bahkan kasus bibit-chandra juga sempat menyita perhatian dan menambah padat isi kepala gue.. well, sepertinya memang saya terlalu banyak memikirkan hal2 yang diluar konteks, hahaha

by the way, saya baru saja kembali dari menebeng ayah saya dinas ke Nusa Tenggara Timur. *Jarang2 nih gue bisa berpelesir di luar Pulau Jawa :p*.. anyways, lama dinas ke sana adalah 5 hari dan tujuan utama adalah Pulau Rote yang merupakan pulau terluar di selatan Indonesia. at first, i don't know what to expect.. tapi setelah gue tiba disana kesan gue adalah pulau tersebut lumayan terpencil, dan pantainya.. INDAH BANGET!!

sedikit deskripsi tentang Pulau Rote: wilayah tersebut baru merdeka secara otonomi 7 tahun yg lalu which means sarana dan prasarana di Rote belum cukup memadai sehingga penduduk masih bergantung pada wilayah lain yg lebih besar. Mengingat kondisi yg demikian, maka jangan heran kalo pas kesana kita ngga menemukan atm, pom bensin, minimarket, dan boro2 circle K, hehehe.. tapi menurut gue itu malah jadi suatu hal yang positif, it is better if Rote is never been touched by what we called "modernity" supaya tidak menarik perhatian lebih banyak manusia untuk tinggal disana, because more humans means more trouble. Dan konsekuensinya adalah pada kelestarian alam.
Image Hosted by UploadHouse.com
gambar diatas gue ambil di atas mobil dalam perjalanan menuju kawasan Rote Barat. Pemandangan seperti ini mengingatkan gue akan landscape di Australia bagian utara. Mungkin inilah yang selama ini orang2 sebut dengan Sabana.. atau Stepa?

Image Hosted by UploadHouse.com

Pantai yang sangat indah pada gambar diatas adalah Pantai Nembrala. Menurut seorang kepala dinas pekerjaan umum disana, ini adalah salah satu pantai untuk surfing yang terbaik di dunia. Terbukti dengan banyaknya kavling2 orang asing di sekitaran pantai. Bahkan warga2 Australia sengaja datang kesini dengan boat pribadi mereka untuk tinggal secara permanen. Namun berdasarkan peraturan pemerintah setempat, warga asing tidak bisa membeli tanah di wilayah Rote manapun, mereka cuma boleh mengontrak dengan jangka waktu paling lama 40 tahun. Like This!
Image Hosted by UploadHouse.com

in this picture you can see Rote's traditional house. Dan perkakas yang di depan rumah itu adalah peralatan untuk membuat semacam gula aren dari air getah pohon lontar. Sebagian besar penduduk di desa-desa Rote bergantung pada sumber daya alam yg satu ini (Pohon Lontar). Produk yg dihasilkan dari pohon lontar antara lain sirup, gula aren, gula semut, dan juga daunnya bisa dimanfaatkan untuk membuat atap rumah dan juga topi tradisional khas Rote.

Image Hosted by UploadHouse.com

kalo yang digambar ini adalah kegiatan membuat atap rumah tradisional Rote dari daun lontar yg sudah dikeringkan. Biasanya yg melakukan kegiatan ini ibu-ibu sedangkan para bapak-bapak pergi ke laut ngurusin rumput laut untuk dijual. Btw, gue sempet ngobrol2 sedikit dengan para ibu2 ini dan mereka pengen banget pergi ke Jogja.. tapi mereka bilang it's impossible dan ampe kiamat juga ga bakal bisa.. Wow! inilah ekspresi natural atas mereka yg terjerat kemiskinan.. miris memang :(
Image Hosted by UploadHouse.com

sunset di pantai deket hotel di kawasan Ba'a, Rote.. crystal clear sky and super nice ambience!


itulah sedikit cerita yg bisa gue share dari pengalaman gue mengunjungi pulau Rote. Rote hanya sebagian kecil dari keindahan alam yg dimiliki Indonesia. Gue yakin masih banyak tempat2 indah lainnya di Indonesia. Leisure your times to visit them people! Indonesia really is a beautiful country :)