Tuesday, March 08, 2011

don't let these pretty big cats gone away foverer




Sumatran tigers are yet one of the famous categories of wild tigers. Their name is derived from where they’re found most: the island of Sumatra which is part of the republic of Indonesia.
The bad news is that Sumatran tigers are endangered species, with the total population not exceeding five hundreds. This is why the Indonesian government tries to preserve them within national parks (out of fear of them being hunted), and tries to breed them as possible.
Another major reason behind the very small Sumatran tiger population is that their natural habitat was destroyed, whether it is by mining activities, urbanization, etc…
Sumatran tigers are known for their relatively small size compared to other tiger subspecies. Male Sumatran tigers are between 200 to 250 cm in length and weight between 120 and 150 kilograms. Female Sumatran tigers are between 180 to 210 cm in length generally with a weight ranging between 80 and 110 kilograms.
Their small size has helped them become fast runners and as such have less problem hunting for their preys. Their bones structure, especially around the legs and toes makes them also quiet good at swimming.
When it comes to breeding, Sumatran tigers follow the general tiger breeding criteria: they can mate usually at anytime during the year but may sometime be more active during the spring. The female Sumatran tiger goes into a three and a half gestation period before giving birth.
Like cats, small cubs are born with their eyes closed and it takes them around two weeks to open them. They follow a milk only diet during the first couple of month of them being born, and they stay close to their mother who takes real good care of them and protects them from dangers. They may start developing hunting skills (with the help of their mother at first) starting the fifth to sixth month. It might take them a full year before they become well skilled.
When it comes to food, Sumatran tigers are seen to prefer night time prey hunting, when they can use their good senses and the cover of the night in order for them to surprise the preys. They prefer hunting for bears and deers, but they have no problem eating any kind of meat whenever they are hungry.
Despite all the efforts taking place in order to preserve the Sumatran tigers, it is believed that around 60 to 70 tigers were shot dead during the late years of the 90’s. Such a number may look small to the reader, but in fact represents close to fifteen percent of the total Sumatran tiger population.
this article is copied/paste from: http://www.tigerdata.info

please also check this video out. A footage of wild sumateran tiger caught on tape in their natural habitat. Source: youtube

Tuesday, December 14, 2010

the Aftermath

Musibah letusan gunung Merapi bulan Oktober lalu tentu menjadi 'kenangan' tersendiri bagi para korban ataupun orang-orang yang terkena dampaknya. Kita semua tidak akan pernah lupa bagaimana dahsyatnya letusan yang kemarin terjadi sehingga merengut puluhan nyawa dan juga ratusan rumah atau bangunan milik warga yang tinggal di sekitar gunung. Dua hari yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi dan melihat langsung daerah yang terkena dampak langsung dari meletusnya gunung Merapi, dan di bawah ini adalah beberapa gambar yang sempat saya ambil di kawasan yang mengalami kerusakan cukup parah, yaitu di wilayah desa Umbulharjo.


Binasa. Dalam sekejap warga di kawasan tersebut kehilangan tempat tinggalnya. Saya nggak bisa membayangkan kalau saya ada di posisi mereka. Kehilangan rumah beserta isinya, dan bahkan lebih parah kehilangan anggota keluarga. Sebagian dari mereka tidak pernah menyangka bahwa musibah ini akan menimpa mereka.




Diatas adalah foto mas yanto (26) dan mbak dewi (24) yang menjadi korban letusan gunung merapi. Walaupun rumah mereka masih berdiri, namun barang-barang yang ada di dalamnya tidak dapat terselamatkan. Alhamdulillah, tidak ada anggota keluarga mereka yang meninggal akibat musibah ini.


Pengalaman ini memberikan saya banyak pelajaran. Saya sangat salut dengan bagaimana mas Yanto dan mbak Dewi dapat menerima musibah ini dengan sangat lapang dada. Saya malu betapa seringkali saya mengeluh akan hal-hal kecil yang sama sekali tidak sebanding dengan cobaan yang mereka alami. Disini kita semua dapat mengambil hikmah untuk mensyukuri hidup kita, karena di luar sana ada sebagian orang yang diberi cobaan yang cukup berat. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran.

Let it go. Let it roll right off your shoulder Don't you know. The hardest part is over Let it in. Let your clarity define you In the end. We will only just remember how it feels
Our lives are made
In these small hours . These little wonders ,These twists and turns of fate Time falls away, But these small hours, These small hours Still remain

(Little Wonders by Rob Thomas)

Thursday, July 22, 2010

new Islamic populism

hello again!

pagi tadi baru saja saya menghadiri kuliah umum yang diselenggarakan atas kerjasama kampus saya dengan ACICIS dengan tema ' pluralisme agama di Indonesia'. Saya mau sharing sedikit dari materi yang saya dapet dari kuliah umum tadi, karena menurut saya pembahasannya lumayan menarik. *Sebenernya tumben-tumben nih saya datang ke event beginian, kalau bukan karena saya bosan luar biasa nggak ada kerjaan sambil menunggu feedback skripsi dari dosen saya :D

Anyways, pembicara dari kuliah umum tadi ada 2 orang. Prof. Vedi Hadiz dari Murdoch University, Perth, Australia dan Dr. A. Arif Mundayat yg merupakan kepala Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM. Waktu pertama kali membaca temanya, saya sempat berpikiran bahwa isu-isu pergerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan agama seperti FPI dan sejenisnya akan menjadi salah satu permasalahan yang dibahas dalam kuliah umum ini. Dan ternyata benar saja, isu tersebut menjadi highlight presentasi Prof. Vedi Hadiz.

Belakangan organisasi berbau radikal yang membawa nama agama, terutama FPI, memang menjadi sorotan publik. Tindakan anggota-anggotanya yang merusak dan menganggu kenyamanan publik menyulut kecaman dimana-mana. Awalnya, saya berpikiran kalau munculnya organisasi tersebut adalah sebagai konsekuensi dari sistem demokrasi yang dianut Indonesia. Menurut saya, sistem demokrasi yang dianut di Indonesia ini sudah sedikit kebablasan. Buktinya setiap orang bebas untuk melakukan apa saja: kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan pers, dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya pemerintah juga yang repot. Karena adanya kebebasan berekpresi, maka muncul karya-karya seni yang dianggap porno. Pro-kontra pun muncul, baru kemudian dibuat UU Anti-Ponografi untuk menanggapi hal tersebut. Sama halnya dengan kekebasan pers, seringkali berita-berita yang disajikan sebuah media mengandung kontroversi entah karena investigasinya yang sangat mendalam, ataupun hanya karena covernya yang provokatif. Konsekuensinya, terdapat pihak-pihak tertentu yang tersinggung oleh pemberitaan-pemberitaan tersebut. Dan seterusnya. Sama halnya seperti FPI. Menurut saya, munculnya organisasi tersebut adalah sebagai konsekuensi dari adanya kebebasan sebagai konsekuensi dari demokrasi.

picture credit: Jason Iskandar

New Islamic Populism. Itulah konsep yang disampaikan Prof. Vedi Hadiz untuk merespon munculnya gerakan Islam garis keras di Indonesia selama ini. Beliau melihat fenomena tersebut melalui kolaborasi antara perspektif sosiologis historis dan ekonomis-politis. Dalam pandangan populisme, rakyat merupakan pihak yang tertindas karena adanya dominasi para elit. Dominasi macam apa? well, tentu kita semua tahu bahwa dominasi yang paling populer di Indonesia ada pada sektor politik dan ekonomi. Namun, dalam konteks ini, dominasi lebih spesifik diartikan sebagai gejala industrialisasi dan juga kapitalisme yang tumbuh subur di negara-negara berkembang dan membuat sebagian kalangan terjebak dalam kesulitan ekonomi. Kapitalisme dan industrialisasi telah menghasilkan masyarakat yang timpang, terutama di negara-negara berkembang. Kedua fenomena tersebut dinilai tidak berpihak pada (kalau bahasa Marx-nya) kaum proletar. Permasalahannya, di negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat yang tergolong dalam kaum proletar tersebut jumlahnya lebih banyak dari kaum yang tergolong mampu atau kaya raya. Artinya, tidak semua kaum proletar dapat melakukan mobilitas sosial secara vertikal melalui industrialisasi. Dan mereka yang tidak mendapatkan kesempatan akan terus berada dalam kemiskinan.

Kemiskinan dan juga kepanikan moral inilah yang kemudian membuat mereka berpikiran sempit karena frustasi dengan keadaan. Kefrustrasian tersebut kemudian yang melatarbelakangi segelintir orang untuk bergabung dalam gerakan radikal. Melalui pergerakan tersebut, aspirasi dan juga kekecewaan mereka dapat tersalurkan, walaupun gerakan tersebut mengatasnamakan agama. Jadi, dalam konteks ini, ideologi agama yang fundamental bukanlah hal utama yang melatarbelakangi keputusan segelintir orang tersebut untuk bergabung dalam gerakan yang radikal.

Di sisi lain, analisa historis meyatakan bahwa populisme agama yang ada sekarang merupakan kelanjutan dari pergerakan populisme agama yang ada pada masa lalu, terutama pada masa penjajahan. Melalui perpektif ini, kita dapat melihat bahwa ideologi agama melatarbelakangi segelintir orang untuk bergabung, atau bahkan membentuk kelompok radikal. Pada masa terdahulu, yaitu pada masa penjajahan pergerakan organisasi yang berasaskan agama memang telah berkembang sebagai bentuk reaksi atas kolonialisme, sebut saja Serikat Islam. Pergerakan di masa lalu tersebut lalu dilanjutkan oleh sekelompok orang di masa sekarang, dengan latar belakang kepentingan untuk membangun negara berdasarkan syariat Islam, yang dinilai dapat memberikan kesejahteraan bagi semua pihak. Kembali lagi pada masalah kesejahteraan. Hal ini secara tidak langsung juga mengindikasikan bahwa kesejahteraan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan karena sistem yang ada tidak mendukung masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.

Intinya, kedua narasumber dari kuliah umum ini sepakat bahwa masalah kesejahteraan lah yang menjadi akar utama yang melatarbelakangi munculnya organisasi ataupun pergerakan radikal yang mengatasnamakan agama. Selama negara belum bisa menjamin kesejahteraan rakyatnya, maka pergerakan-pergerakan ini akan terus ada dalam masyarakat.

Saya sangat setuju dengan solusi yang disampaikan oleh Dr. A. Arif Mudayat bahwasanya agama itu merupakan suatu hal yang bersifat pribadi dan individual, ketika agama dilembagakan, hanya akan menciptakan kesalahpahaman yang mengacu pada kekacauan. Benar juga, Tuhan kan Yang Maha Berkehendak, kalau mau merubah keadaan ya kita harus terus berdoa kepada-Nya dan berusaha, bukan melakukan razia keliling dan memukuli orang-orang. Kapan mau sejahteranya kalau begitu terus?


Wednesday, July 21, 2010

'how much information is too much?'

hello!

posting saya kali ini disulut oleh sebuah artikel berjudul "Are we informing ourselves into inaction? how much information is too much?" yang saya baca beberapa hari lalu di link ini: Sociology Lens

Inti dari tulisan artikel tersebut adalah bahwa kita berada dalam situasi dimana informasi bukan lagi menjadi sesuatu yang ekslusif, namun berlimpah ruah. Kelimpah ruahan tersebut kemudian menyebabkan kita menjadi buta arah dalam memahami sesuatu secara obyektif.


"Too many choices makes it difficult for us to assimilate all the information, but too few choices would presumably not provide us with as much intellectual stimulation as we might desire."

kita hidup di era informasi, dimana informasi dapat diakses tanpa batas, terutama melalui media massa. Dan apakah jenis media massa yang paling memungkinkan kita untuk mengakses informasi tanpa batas tersebut? pastinya internet.

Saya akan berbagi pengalaman pribadi saya berkaitan dengan hal ini. Bisa dibilang saya lumayan addicted dengan internet. Ada banyak hal yang bisa saya cari lewat internet. Pada saat yang bersamaan, saya bisa browsing website Lonely Planet dan melihat-lihat arsip foto-foto perjalanan di Afrika, di tab kedua saya sedang membuka sebuah website yang menyajikan artikel tentang meditasi, dan di tab ketiga saya blogwalking blog milik orang secara random. Dan begitu seterusnya, saya browsing website demi website tanpa adanya kesinambungan dari informasi yang disajikan. Atau dengan kata lain, saya browsing secara membabi buta, asalkan informasi tersebut menarik hati saya maka akan baca tidak peduli apakah antara informasi yang satu dengan yang lainnya berkaitan atau tidak. Sayangnya, setelah berjam-jam browsing bermacam-macam website dan membaca banyak artikel hanya sedikit saja hal yang nyangkut di otak saya dari sekian banyak hal yang (seharusnya) saya peroleh sebelumnya.

Setelah membaca artikel yang telah saya referensikan sebelumnya, saya pun tersadar bahwa saya merupakan 'korban informasi'. Sama halnya seperti mode yang menghasilkan korban mode, informasi pun dapat menghasilkan korban informasi. Informasi-informasi yang tersaji di internet memang dikemas secara menarik, lengkap dengan 'aksesoris' visual yang memanjakan mata, sehingga 'membaca' di internet lebih menarik ketimbang membaca buku. Oleh sebab itu, secara tidak sadar kita semua terus-menerus mengakses informasi via internet. Misalnya saja, orang-orang lebih memilih untuk membaca berita di internet, selain update-nya luar biasa cepat, berita-berita tersebut juga disajikan dalam paragraf yang ringkas dan sederhana sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Berbeda dengan membaca berita di koran yang notabene lebih lambat update-nya karena kita harus menunggu 24 jam kemudian untuk mendapatkan update ataupun kelanjutan dari berita yang disajikan sekarang. Dan setelah saya pikir-pikir, berita-berita yang saya baca di koran cenderung nyangkut lebih lama di otak saya ketimbang berita-berita yang saya baca di internet. Kenapa? karena saya dapat lebih fokus mambaca koran tanpa harus 'tergoda' untuk pindah ke window sebelah untuk melihat website yang sudah selesai loading. Tidak fokus, mungkin hal inilah yang menjadi permasalahan mengapa informasi yang disajikan di internet jarang ada yang nyangkut di otak saya, karena kita terus-menerus tergoda untuk mengakses informasi demi informasi dan pada akhirnya informasi-informasi tersebut hanya lalu saja lewat di otak saya. Apakah anda juga mengalami sindrom mabuk informasi? :D



Friday, July 09, 2010

Idealis Spontan

hello,


just had another online personality test, and so far this one has the most accurate result to describe my personality.. so i decided to paste them here on my blog.


if you're curious to have one also, here's the link iPersonic



Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.


Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.


Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.


Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.



Sunday, May 23, 2010

(welcome to) the twitter world

Twitter. Sebuah jejaring sosial yang belakang ini sangat populer setelah facebook. Pada awalnya saya sendiri menganggap situs ini nggak penting. Kenapa? Karena saya nggak melihat poin penting dari adanya situs tersebut. Gambaran saya waktu itu, twitter adalah sebuah situs yang ditujukan untuk mereka yang ‘gila-update-status’.. u know. Pengumuman-pengumuman standar yang menyatakan kita sedang melakukan apa dan dimana, protes terhadap cuaca yang panas, dan bahkan makian terhadap hal-hal yang membuat kesal, dan lain sebagainya. Dari situ, saya beranggapan bahwa situs twitter hanya cocok buat mereka yang memang atau berjiwa selebritis. Mereka kan memang terkenal, jadi wajar aja kalau orang-orang ingin tahu update tentang mereka, pikir saya.

Namun perlahan pemahaman saya tentang situs twitter yang tidak ada poin pentingnya mulai luntur. Berawal dari cerita teman saya tentang bagaimana kecanduannya dia dengan twitter. Kata teman saya, dia menjadi bisa lebih update terhadap ‘pekembangan’ terkini teman-temannya (atau istilah dalam twitternya orang-orang yang di-follow). Menurutnya, twitter menjadi ruang interaksi yang lebih efektif ketimbang bertemu langsung. Berdasarkan cerita teman saya tersebut, saya pun mulai tertarik untuk bergabung dalam situs tersebut.

Setelah bergabung di twitter, saya pun merasa tidak bisa lepas dari situs tersebut. Dalam sehari saya bisa berkali-kali membuka situs tersebut, entah untuk sekedar share apapun yang ada di kepala saya, merespon status-status teman, atau bahkan hanya memperhatikan status mereka. Hal tersebut semacam menjadi hal yang menyenangkan untuk saya. Melalui update statusnya, saya bisa sedikit banyak membaca karakter teman-teman saya. Twitter selalu membuat saya penasaran. Namun di sisi lain, ada sebuah pelajaran yang saya tangkap dari habit pengguna twitter, termasuk saya. Mungkin terkadang (tanpa sadar) saya meng-update status yang kiranya kurang penting untuk orang lain. Misalnya: ‘aduuh, perut saya sakit’, atau ‘kapan ya hujan ini berhenti?’.. memang kalo saya lihat lagi status-status tersebut memang tidak penting, namun pada saat mengupdate status tersebut mungkin saya memang sedang mengalami sakit perut yang menganggu sehingga saya perlu men-share, maksudnya hanya sekedar untuk mengeluhkan keadaan saya. Dan itu bisa membuat saya merasa lebih baik.

Well, setiap orang pasti memiliki narasinya masing-masing tentang twitter. Bagaimana mereka mereflesikan diri melalui situs tersebut, bagaimana mereka berkomunikasi dengan teman-teman mereka, bagaimana mereka menyerap informasi-informasi dari profile tertentu yang mereka follow, dan sebagainya. Pada hakikatnya twitter adalah sebuah situs mikroblogging dimana kita bebas untuk share tentang apa pun. Walaupun begitu, menurut saya kita juga tetap harus memperhatikan kenyamanan pengguna lainnya. Mengobral emosi dan keluhan tentu menjadi salah satu hal yang cukup menganggu. Instead, ketika kita share hal-hal positif maka akan berpengaruh positif bagi orang lain juga Juga, bukan?


Thursday, April 15, 2010

terprovokasi

provokasi..


seringkali kita termakan olehnya, terprovokasi..


According to Kamus Besar Bahasa Indonesia:

pro·vo·ka·si n perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan: sebaiknya mereka menyadari bahwa -- yg ditimbulkannya itu akan mengundang pertumpahan darah;
ter·pro·vo·ka·si v terpancing atau terpengaruh untuk melakukan perbuatan negatif, msl perusakan: pengunjuk rasa sempat ~

kenapa tiba-tiba saya bicara provokasi?
well, saya terinspirasi dari kejadian kerusuhan di Tanjung Priuk terjadi kemarin (14 April 2010). Memang istilah provokasi selalu identik dengan kerusuhan. Sekelompok orang yang terprovokasi oleh sang pengadu domba dalam sekejap bisa menjadi angry mob, rusuh dan gelap mata.. memang untuk konteks kejadian di Priuk kemarin, masing-masing pihak yang berdiri pada kepentingan masing-masing yang mereka perjuangkan ditambah lagi peran media massa yang menginform masyarakat dengan segala ketimpangannya menyebabkan efek provokasi dan terprovokasi semakin meluas ke orang-orang yang secara langsung tidak berada dalam kerusuhan tersebut . . well, that's classic. Model seperti ini sudah berlangsung sejak era orde lama dan bertambah parah pada era reformasi, Provokator menjadi semacam trademark di indonesia..


menurut pendapat saya sendiri, proses menjadi provokator atau pihak yang terprovokasi semua bermula pada pikiran kita masing-masing. There are times when our minds constructing things that we can't control dan pada akhirnya kita menyerah dan menjadi pihak yang terprovokasi. Akibatnya, kita berpikiran negatif atau berkebalikan akan sesuatu, dan kita cenderung tidak bisa menerimanya. Istilah provokasi juga tidak saja me-refer pada kerusuhan massal. Kadangkala nafsu juga memprovokasi kita untuk bertindak tidak semestinya, asusila misalnya. Atau ketika secara tidak sadar kita mebicarakan kejelekan orang lain di belakang mereka, saya rasa itu juga suatu bentuk provokasi.


Belakangan ini saya sedang merasa berada dalam low point, dengan very very low self esteem. Saya terus berpikiran kalau saya tidak sehat (dlm arti yang sebenarnya) dan terus-terusan mendramatisir setiap gejala yang saya rasakan di tubuh saya. Padahal, pada saat saya berpikiran jernih, semua perasaan bahwa badan saya tidak sehat itu muncul karena saya terus-terusan memikirkannya, saya memprovokasi diri saya dengan pikiran-pikiran negatif. Akibatnya, saya terus-menerus merasakan tidak sehat. It's kinda hard to get out of it, and i'm still working on it now.. dan saya harus bilang inilah perasaan palin mellow-dramatis-bin-lebay yang pernah rasakan. Saya memang tipikal orang yang mudah terprovokasi dengan apa yang saya dengar dan lihat, sialnya, kali ini saya terprovokasi dengan pikiran saya sendiri dan saya tersiksa karenanya. Akhirnya saya tahu gimana rasanya mengalami mental breakdown yang luar biasa sampai merasa ilfeel dengan segala hal. 'Thank's to pikiran saya yang sudah meprovokasi saya..


Konklusinya yang saya dapat adalah: mengontrol diri itu sangat penting, even your mind can provoke you and bring you down to the lowest point..