Wednesday, May 25, 2011

the Gaga phenomena


Lady Gaga. Pertama kali mendengar nama ini saya langsung megasosiasikannya dengan bizarreness. Saya pribadi bukan penggemar dari penyanyi fenomenal ini, namun sosoknya sangat menarik untuk dikaji. Lady Gaga identik dengan penampilannya yang nyentrik, lirik lagu poweful, dan videoklip yang vulgar dan provokatif.. overall, she's not your average idol.


Lahir pada tahun 1986 dengan nama Stefani Joanne Angelina Germanotta, yang merupakan keturunan Amerika-Italia. Sebagai keturunan Italia, Lady Gaga besar di lingkungan Katolik Roma yang cukup kuat. Lady Gaga berasal dari sebuah keluarga dengan kelas sosial menengah ke bawah yang hidup di kota New York, AS. Sejak kecil Lady Gaga sudah mahir bermain piano dan juga menyanyi, hingga pada usia 19 tahun ia mendapatkan kontrak pertamanya sebagai penyanyi. Lady Gaga mentrasformasi secara total dirinya dan menjadi booming setelah album pertamanya, The Fame dirilis pada tahun 2008. Sejak itu, kemunculan Lady Gaga selalu menarik perhatian media, tidak lain tidak bukan karena presentasi dan sekaligus identitasnya yang nyentrik.

Lady Gaga dan Seksualitas

Kemunculan Lady Gaga telah mengubah identitas dari musik pop kontemporer melalui karakter yang direpresentasikannya. Terlepas dari faktor branding yang memang sengaja dirancang untuk mendongkrak popularitasnya, Lady Gaga sendiri merupakan sebuah fenomena yang memberikan atmosfer baru pada tren musik pop. Ada banyak konsep yang dapat digunakan untuk mendekonstruksi teks dari seorang Lady Gaga, mulai dari high fashion, perlawanan (subversi), hiperrealitas, dan seksualitas. Lady Gaga merepresentasikan seksualitas melalui penampilannya yang vulgar, dimana hal ini bisa diidentifikasikan dengan jelas dalam videoklip-videoklipnya. Seksualitas cenderung direpresentasikan dengan penampilan vulgar. Hal ini bukanlah hal yang baru dalam industri musik pop, dimana fenomena ini dilegitimasi oleh eksistensi Madonna pada masa sebelumnya. Lady Gaga dan Madonna adalah dua sosok yang dominan dalam mengekspresikan seksualitas perempuan secara frontal ke dalam musik pop. Representasi seksualitas oleh salah satu pandangan dalam kajian posfeminis dinilai sebagai bentuk subversi perempuan dalam melawan budaya patriarkal. Kaplan (1993) berusaha untuk menjawab hal ini dengan konsep topeng, dimana menurutnya bahwa tidak ada diri yang essensial melainkan sebagai hasil dari konstruksi budaya. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa topeng (seksualitas) berfungsi sebagai permainan dengan sistem tanda gender yang ada sehingga menurutnya Madonna (dan Lady Gaga) sadar diri dengan menggunakan topeng tersebut untuk mereproduksi cara-cara dan fantasi-fantasi patriarkal -topeng (seksualitas) sebagai muslihat1. Dari penjelasanya tersebut, dapat dikatakan bahwa seksualitas merupakan kekuatan yang digunakan oleh Lady Gaga untuk melegitimasi citra dirinya sebagai perempuan yang kuat dan otonom, seperti yang dapat diinterpretasikan melalui videoklip berikut:




Lady Gaga dan Hiperrealitas

Pengorbanan Lady Gaga untuk eksistensinya dalam musik pop dan bisa dibilang cukup signifikan. Dalam banyak wawancara dengan media di AS Lady Gaga seringkali menyatakan secara eksplisit bahwa pop music is her religion. Seorang Stefani Germanotta yang berpenampilan seperti wanita pada umumnya bertransformasi total menjadi seorang Lady Gaga yang fenomenal dengan identitas yang berbeda sama sekali. Dalam transformasinya, Lady Gaga hadir secara konsisten dengan penampilan yang tidak biasa, dimana ia melabeli dirinya sebagai pengikut fashion avant garde. Transformasi identitas Lady Gaga tentu bukan tanpa tujuan, keunikan dari penampilannya justru sesuatu yang 'menjual' dari dirinya untuk tetap eksis dalam industri musik pop. Pencitraan yang diusungnya merupakan gabungan antara sci-fi, glam, horror, high fashion and pop art, sebuah perpaduan yang menghasilkan sebuah hiperrealitas atas representasi dirinya. Menurut Baudrillard (1983), hiperrealitas diproduksi menurut suatu model. Dia tidak diperoleh, melainkan direproduksi sebagai sesuatu yang nyata sehingga 'hiper' berarti 'lebih nyata daripada yang nyata'2. Penampilan Lady Gaga memang mengaburkan antara yang nyata dan yang artifisial. Secara keseluruhan, kita melihat bahwa Lady Gaga beserta identitasnya yang artifisial sebagai sesuatu yang nyata karena masifnya pengaruh yang dihasilkan dari pencitraannya tersebut. Fenomena Lady Gaga menjadi rasional karena melalui musiknya ia berkampanye tentang otonomi diri dan pentingnya menjadi diri sendiri, dimana hal tersebut memberikan influence bagi orang-orang yang merasa insecure dengan dirinya sendiri, seperti yang disampaikannya melalui potongan lirik dari hits terbarunya berikut:

I’m beautiful in my way
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the right track, baby
I was born this way


1Brooks, Ann. Posfeminisme dan Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. 2009. Yogyakarta: Jalasutra

2Barker, Chris. Cultural Studies: Teori dan Praktik. 2008.Yogyakarta: Kreasi Wacana

referensi:

- http://en.wikipedia.org/wiki/Lady_gaga

- http://theotherjournal.com/mediation/2011/05/15/lady-gaga-monstrous-love-and-cultural-baptism/

- http://kultuit.tumblr.com/post/1215741157/hiperrealiti-fesyen-iklan-pencitraan-oleh


Friday, May 20, 2011

Spongebob Squarepants: antara Surrealisme dan Rasionalitas

Siapa yang tidak kenal dengan sosok ini?

Yep. Spongebob Squarepants. Tiba-tiba muncul keinginan saya untuk menulis tentang kartun yang belakangan sangat digandrungi ini. Saya pribadi gemar sekali menonton kartun ini, buat saya kartun ini sangat menghibur karena absurditas dan surrealisme tingkat tingginya yang membuat saya cengar-cengir plus teraneh-aneh sendiri setiap kali menontonnya.

Kartun Spongebob Squarepants pertama kali tayang di channel Nickelodeon pada tahun 1999. Tokoh Spongebob diciptakan oleh Stephen Hillenburg yang kebetulan juga seorang marine biologist. Sejak pertama kali tayang hingga sekarang, Spongebob Squarepants menjadi kartun dengan rating tertinggi di channel Nickelodeon, bahkan majalah TIME memasukkan tayangan ini sebagai 'one of the most greatest television show ever'. Salah satu hal yang membuat kartun ini begitu fenomenal ialah karena penikmatnya tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa *termasuk saya*.



Bagaimana saya menikmati sebuah tontonan kartun pada saat sekarang tentu berbeda dengan ketika masa kanak-kanak dahulu. Waktu saya masih kecil, surreliasme dalam sebuah kartun bukanlah suatu hal yang nyeleh, karena memang hal tersebut melegitimasi alam imajinasi anak-anak yang cenderung liar. Dengan bertambahnya usia, cara saya menikmati kartun tentu berbeda, surrealisme justru menjadi sesuatu yang saya anggap lucu. Dalam konteks kartun Spongebob ini, banyak sekali hal-hal surreal yang bisa kita lihat. Pertama, tokoh-tokoh dari kartun itu sendiri dengan bentuknya yang ajaib. Selama ini kita kehidupan bawah laut cenderung identik dengan berbagai macam ikan, namun dalam kartun ini tokoh-tokoh utamanya justru makhluk-makhluk laut tidak begitu umum, dan bahkan tidak lazim, seperti tupai yang hidup di dalam laut. Selain itu, masih banyak hal-hal surreal lainnya yang bisa kita jumpai dalam kartun ini, seperti: Gary, keong peliharaan Spongebob yang mengeluarkan suara kucing; adanya pantai di dalam laut; rumah Patrick yang jika dilihat dari luar merupakan sebuah batu; anak Mister Krab, Pearl, merupakan seekor ikan paus; dan lain sebagainya.

Terlepas dari segala absurditas dan surrealisme yang ada dalam kartun ini, saya juga menelaah adanya bentuk-bentuk rasionalitas yang juga dapat dijumpai dalam kartun ini. Spongebob yang digambarkan sebagai tokoh yang polos dan seringkali melakukan hal-hal yang absurd, begitu passionate dengan pekerjaannya sebagai koki di restoran Krusty Krab. Suatu hal yang menurut saya sangat rasional. Dalam kehidupan nyata, bekerja merupakan merupakan sebuah rutinitas yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hanya saja, disini Spongebob melakukan pekerjaannya dengan segenap antusias hingga rela tidak menerima bayaran untuk pekerjaannya tersebut. Pekerjaan digambarkan sebagai sesuatu yang menyenangkan. dan menggairahkan Sebuah konsep yang sangat jarang ditemui dalam kehidupan nyata. Di sisi lain, Mister Krab sebagai majikannya, dalam kartun ini diceritakan memiliki restoran cepat saji yang laris-manis. Konsep restoran cepat saji ini sangat merepresentasikan gaya hidup postmodern dimana sebagian dari masyarakat kita merupakan penggila fast food. Selain itu, sifat Mister Krab yang pelit dan sangat perhitungan juga mewakili karakter kapitalis yang sangat menjunjung tinggi efisiensi dan profit. Dan terakhir, ada Squidward yang memiliki minat yang sangat tinggi terhadap seni. Dalam kartun ini, digambarkan bahwa dalam kesehariannya Squidward banyak berkutat dengan hal-hal yang berbau seni, mulai dari bermain alat musik, melukis, dan lain sebagainya. Sebagai seniman, Squidward cenderung idealis dan memiliki ego yang tinggi, namun hal ini menjadi kontras ketika ia memilih untuk bekerja sebagai kasir di Krusty Krab. Pilihan tersebut menjadi rasional ketika ia melakukannya agar memiliki rutinitas dalam kesehariannya dan juga agar mendapatkan uang dari pekerjaannya tersebut.

Secara overall, saya berpendapat bahwa kartun SpongeBob ini memang cukup kompleks, dan saya salut dengan penciptanya yang bisa mengemas kompleksitas tersebut secara sederhana dan bahkan menjadi tontonan yang sangat menghibur. Nilai-nlai moral yang bisa dipetik dalam kartun ini juga sangat kuat, seperti persahabatan, ketulusan, antusiasme terhadap hidup, dan dedikasi. Aye, aye, Captain!